Forum Komunikasi Warga Kahuripan Nirwana

.

Sabtu, 29 Mei 2010

Menyikapi Calon Bupati Sidoarjo dari Lapindo pada pilkada 2010

Pada 26 Juli 2010 nanti, warga Sidoarjo –tak terkecuali warga Kahuripan Nirwana- bakal melaksanakan ritual lima tahunan, memilih calon Bupati Sidoarjo untuk lima tahun kedepan. Berbeda dengan pilkada 2005, pada pilkada kali ini incumbien Win Hedrarso tidak bisa mencalonkan diri lagi. Praktis semua calon adalah pendatang baru, meskipun terdapat Syaiful Illah yang maju dengan kendaraan PKB. Sebagai Wakil Bupati incumbien, Syaiful Illah lebih diuntungkan dibanding dengan empat calon yang lain, paling tidak dari segi popularitas, karena sudah cukup dikenal oleh warga Sidoarjo. Sementara empat calon lain, harus berjuang keras untuk memperkenalkan diri, karena relatif kurang dikenal.

Yang cukup mengejutkan adalah munculnya kandidat dari Lapindo , tidak tanggung-tanggung dua calon sekaligus, yaitu Bambang Prasetyo Widodo (Wiwid) yang dicalonkan oleh Partai Golkar dan Yuniwati Teryana lewat Partai Demokrat. Kemunculan mereka tentu perlu disikapi secara bijaksana oleh Warga Kahuripan Nirwana. Hampir seluruh warga Kahuripan Nirwana mengenal mereka berdua, minimal mengenal namanya. Wiwid, yang merupakan putra mantan bupati Sidoarjo Suwandi, adalah direktur operasional PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ), sementara Yuniwati adalah Public Relation Manager MLJ.

Bagi Warga Kahuripan Nirwana , adanya calon-calon dari Lapindo ini pantas mendapat perhatian yang serius. Paling tidak ada dua hal yang perlu di perhatikan, pertama apa motivasi mereka mencalonkan diri dalam pilkada Sidoarjo 2010 ini? Selama ini kita mengenal mereka tidak lebih dari aktivitas professional sebagai karyawan Lapindo. Hampir tidak pernah sekalipun kita mendengar kiprah mereka dalam bidang yang lain, baik ekonomi, social maupun politik. Parktis seluruh aktivitas mereka hanya hal-hal yang terkait dengan masalah lumpur Lapindo. Karena itu dengan munculnnya nama keduanya dalam daftar calon bupati Sidoarjo 2010 -2015, menimbulkan pertanyaan apa motivasi mereka? Apa Visi dan Misi mereka secara kongkret? Bisakah mereka –apabila nanti terpilih- menjadikan sidoarjo lebih baik?

Yang kedua adalah seandainya mereka nanti terpilih menjadi Bupati Sidoarjo, bagaimana nasib penanganan lumpur Lapindo yang sudah berjalan 4 tahun? Bagaimana nasib korban lumpur, baik yang sudah masuk peta terdampak maupun belum? Dan yang terpenting bagi warga Kahuripan Nirwana adalah bagaimana kelanjutan proses Perjanjian Jual Beli dan penyerahan sertifikat rumah?

Dari pertanyaan yang kedua ini, ada hal cukup ironis. Dalam visi dan misi maupun baloho-baliho yang terpampang di sudut-sudut Sidoarjo, hampir tidak ada sama sekali yang menyinggung penangan lumpur. Sangat ironis, mengingat mereka seharusnya sangat mengetahui semua aspek persoalan lumpur di Sidoarjo. Kita patut mempertanyakan lebih jauh, seberapa besar komitment mereka terhadap penyelesaian masalah lumpur ini.

Lumpur Lapindo sudah menjadi ikon utama kota Sidoarjo, mengalahkan ikon-ikon lainnya. Karena itu penyelesaian masalah lumpur seharusnya menjadi misi utama dari semua Calon Bupati Sidoarjo, utamanya calon-calon dari Lapindo. Tentu sangat memprihatinkan apabila calon dari Lapindo sendiri justru tidak menjadikan penyelesaian masalah lumpur ini sebagai misi utama. Dan bagi warga Kahuripan Nirwana, tentu penyelesaian PJB dan sertifikat rumah merupakan faktor yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Tidak adanya komitmen menyelesaikan masalah lumpur dalam visi dan misi para calon bupati dari Lapindo ini, seolah berkorelasi dengan sikap Lapindo sendiri dalam menyelesaikan masalah PJB dan sertifikat rumah bagi warga korban lumpur yang memilih opsi Cash and Resetlement di kahuripan Nirwana. Selama ini Lapindo hampir selalu meleset dalam menepati komitmen-komitmen terkait Kahuripan Nirwana. Mulai dari pembayaran susuk yang molor dari waktu yang dijanjikan, perubahan skema pembayaran susuk menjadi dicicil, pembangunan rumah yang meleset jauh dari jadwal yang dijanjikan, dan sekarang nasib PJB dan penyerahan sertifikat yang tidak jelas kapan realisasinya.

Dari rekam jejak diatas, sangat mungkin bila kelak apabila mereka terpilih menjadi bupati Sidoarjo, nasib warga Kahuripan Nirwana tidak akan berbeda dari kondisi saat ini, bahkan bisa jadi lebih parah dan tidak menentu!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar